Beberapa letusan gunung berapi yang pernah tercatat sepanjang sejarah antara lain :
Letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Indonesia, pada tahun 1815. Para ilmuwan memperkirakan bahwa 10.000 orang meninggal dalam letusan awal dan pada bulan-bulan beikutnya sekitar 82.000 lagi meninggal karena kelaparan dan penyakit. Setahun kemudian, debu yang dipancarkan ke atas menyebar ke seluruh atmosfer sehingga mengurangi jumlah sinar matahari yang mencapai permukaan bumi dan menurunkan suhu.
Letusan Gunung Pinabotu di Filipina tahun 1991 mempunyai dampak global tapi tidak berlangsung lama dengan mendinginkan bumi dan menipiskan lapisan ozon.
Letusan Gunung Berapi Santorini, 70 mil di utara Kreta yang meletus pada tahun 1600 Sebelum Masehi dengan kekuatan seratus kali lebih besar dari letusan Krakatau tahun 1883. Dampak iklim Santorini sangat mungkin merupakan salah satu penyebab hilangnya peradaban Minoa secara tiba-tiba.
Letusan Gunung Hekla 3 di Iceland antara tahun 1150 dan tahun 1136 Sebemlum Masehi. Menurut seorang penulis, ”salju turun dalam enam bulan dan tebalnya lebih dari satu kaki…es membunuh lima panen sereal…tanaman serat menjadi tidak matang…dan terdapat hujan lebat”.
Perubahan-perubahan iklim yang kecil yang disebabkan oleh letusan gunung berapi, mungkin juga menyebabkan terjadinya Revolusi Prancis. Emmanuel Le Roy Ladurie dalam penelitian tentang sejarah iklim Times of Feast, Times of Famine menguraikan malapetaka kegagalan panen dan panen yang buruk di Prancis selama enam tahun tepat sebelum revolusi tahun 1789. Musim dingin yang ganas mencapai puncaknya tahun 1788-1789.
Peranan iklim dalam membentuk sejarah manusia amat rumit. Iklim selalu berinteraksi dengan faktor-faktor sosial, politik dan ekonomi yang mendominasi pendekatan tradisional kita terhadap sejarah, tetapi dari bukti langsung beberapa gangguan iklim tampaknya merupakan faktor yang sangat berarti, bahkan dominan dalam membentuk perangai dan sikap umum segera setelah kerusuhan politik. Penderitaan akibat iklim Prancis antara tahun 1783 sampai 1789 tampak jelas memainkan peran utama dalam memburuknya perangai politik sehingga terjadi Revolusi Prancis.
Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan iklim sangat mempengaruhi peradaban manusia di masa lalu. Namun, hubungan antara manusia dan perubahan iklim saat ini telah berubah berbalik arah. Peradaban manusia kini menjadi ancaman strategis bagi keseimbangan alam. Era kita saat ini disebut para ahli geologi sebagai era kenozoikum, dicirikan dengan bentuk kehidupan yang lebih banyak dan beragam. Jika suatu saat era ini berakhir, mungkinkah peradaban kita hanya akan membingungkan komunitas baru di masa depan yang mencoba memahami apa yang terjadi pada peradaban kuno yang hilang yang telah membuat bangunan-bangunan megah dari beton, baja dan plastik di masa lalu. Jawabannya sebagian tergantung pada apakah kita telah belajar dengan baik tentang kebudayaan kuno yang hilang sebelum era kita sekarang ini.
Sudarmojo (2009) dalam bukunya berjudul ”Perjalan Akbar Ras Adam” menceritakan bahwa dalam kurun waktu yang singkat sinar matahari terhalang masuk ke planet bumi akibat sebuah letusan Gunung Toba yang sangat dahsyat di Pulau Sumatera sekitar 74.000 tahun lalu. Tercatat dalam sejarah geologi bahwa letusan Gunung Toba adalah letusan gunung terdahsyat dalam peradaban manusia. Perbandingan letusan Gunung Toba dengan gunung lainnya yang tercatat sebagai 9 letusan dahsyat gunung api di Planet Bumi, seperti Gunung Tabora tahun 1815, Gunung Thera tahun 1630, Gunung Krakatau tahun 1883, Gunung Laki tahun 1783, Gunung Vesuvius tahun 79, Gunung St. Helens tahun 1980, Gunung Pelee tahun 1902 dan Gunung Tristan Da Cunha tahun 1961.
Letusan tersebut mengganggu iklim planet bumi masa itu secara mendadak yang disebut Volcanic Winter dan menyebabkan musim dingin yang sangat ekstrim atau disebut Extreme Cold selama lebih kurang 1.000 tahun dan meninggalkan jejak berupa Danau Kaldera Toba yang sangat luas yang bisa kita lihat hingga saat ini. Letusan tersebut menjadi letusan terdahsyat sepanjang peradaban manusia dan menrupakan letusan gunung terdahsyat sejak 2 juta tahun terakhir.
Iklim tidak bersahabat akibat letusan tersebut dan kembali normal setelah lebih dari 10.000 tahun kemudian. Akibatnya, ras Homo Erectus dan Homo neanderthal sebagai makhluk Homo terakhir pada rentang waktu 30.000-35.000 tahun yang lalu, musnah dari muka bumi. Makhluk yang selamat dari iklim tersebut adalah Homo sapiens.
Al Gore lebih lanjut mengemukakan bahwa letusan gunung berapi memberikan pelajaran tentang perubahan-perubahan jangka panjang dalam tiga hal yaitu :
Memperlihatkan betapa tergantungnya peradaban kita pada kondisi iklim yang stabil
Menunjukkan bahwa tragedi-tragedi yang menimpa satu bagian dunia dapat disebabkan oleh perubahan iklim yang berasal dari bagian dunia yang sama sekali berbeda.
Memberi kesan adanya berbagai akibat efektif dari suatu perubahan tiba-tiba dan meluas yang dilakukan oleh manusia dalam pola iklim.
Mangunjaya (2008) dalam bukunya ”Bertahan di Bumi” berbicara tentang peradaban tentu sebagian akan terkait dengan gaya hidup kita dan dampaknya terhadap alam. Mengutip Sir Nicholas Stern, bila dalam 50 tahun mendatang (2050) gaya hidup manusia tidak berubah dalam bersikap terhadap alam dan lingkungan, bencana pemanasan global akan benar-benar terjadi. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memperkirakan bahwa kenaikan suhu global akan berkisar 1,5-4,2OC pada tahun 2050 atau 2070. Karena itu, perubahan gaya hidup untuk menanggulangi bahaya perubahan iklim perlu segera dilakukan.
Para pencinta lingkungan berupaya meyakinkan dampak kerusakan dengan memberi tolak ukur dan alasan yang mendasar agar gaya hidup dan konsumsi terhadap sumberdaya alam dapat dikurangi. Salah satu caranya dengan analisis jejak ekologi (ecological footprint). Analisis ini berusaha menjelaskan bahwa dampak gaya hidup manusia akan mempengaruhi dan mereduksi langsung kemampuan serta letersediaan sumberdaya alam baik di darat maupun di laut, yang mempunyai ekosistem produktif. Satuan untuk menghitung sumberdaya alam yang produktif ini dikonversi dalam bentuk global hektar (gha), merupakan penjumlahan total lahan yang diperlukan untuk menyediakan makanan, perumahan, transportasi, bahan konsumsi lainnya, serta pelayanan yang diperlukan.
Rata-rata jejak ekologi tertinggi per kapita adalah pada penduduk Amerika Serikat (9,5gha), Inggris (5,45gha) dan Indonesia (1,2gha). Bangladesh memiliki jejak terendah yaitu rata-rata 0,5 gha. Pendekatan ini menunjukkan bahwa semakin kaya suatu negara, maka semakin besar jejak ekologi mereka dalam menguras sumberdaya di bumi.
Pada skala global, dunia telah mengalami defisit dalam neraca ekologi, yang pada saat yang sama Indonesia masih memiliki surplus ekologi. Namun melihat trend kecenderungan yang ada, terlihat jelas bahwa Indonesia sedang menuju defisit ekologi, dimana terjadi penurunan kapasitas biologi setiap tahun. Kejadian bencana ekologi yang melanda negeri ini telah menjadikan meningkatnya anggaran belanja negara dan anggaran belanja rakyat. Nilai yang tidak sebanding dengan sebuah pendapatan negara yang didapat dari upaya eksploitasi yang berkontribusi pada bencana ekologi. Negeri ini akan segera menuju kebangkrutan bila defisit ekologi tidak tertangani dengan segera.
Wynn Las Vegas and Encore Boston Harbor - JT Hub
BalasHapusWynn Resorts Ltd. (NASDAQ:WYNN) announced today that 밀양 출장마사지 it 경산 출장마사지 is acquiring Encore Boston Harbor, a 남양주 출장마사지 20-story, 동해 출장안마 512-room, 512-room, 1,800-room Wynn 동두천 출장샵