23 Mei 2013

SILVIKA

Para pencinta lingkungan berupaya meyakinkan dampak kerusakan dengan memberi tolak ukur dan alasan yang mendasar agar gaya hidup dan konsumsi terhadap sumberdaya alam dapat dikurangi. Salah satu caranya dengan analisis jejak ekologi (ecological footprint). Analisis ini berusaha menjelaskan bahwa dampak gaya hidup manusia akan mempengaruhi dan mereduksi langsung kemampuan serta letersediaan sumberdaya alam baik di darat maupun di laut, yang mempunyai ekosistem produktif. Satuan untuk menghitung sumberdaya alam yang produktif ini dikonversi dalam bentuk global hektar (gha), merupakan penjumlahan total lahan yang diperlukan untuk menyediakan makanan, perumahan, transportasi, bahan konsumsi lainnya, serta pelayanan yang diperlukan. Rata-rata jejak ekologi tertinggi per kapita adalah pada penduduk Amerika Serikat (9,5gha), Inggris (5,45gha) dan Indonesia (1,2gha). Bangladesh memiliki jejak terendah yaitu rata-rata 0,5 gha. Pendekatan ini menunjukkan bahwa semakin kaya suatu negara, maka semakin besar jejak ekologi mereka dalam menguras sumberdaya di bumi. Pada skala global, dunia telah mengalami defisit dalam neraca ekologi, yang pada saat yang sama Indonesia masih memiliki surplus ekologi. Namun melihat trend kecenderungan yang ada, terlihat jelas bahwa Indonesia sedang menuju defisit ekologi, dimana terjadi penurunan kapasitas biologi setiap tahun. Kejadian bencana ekologi yang melanda negeri ini telah menjadikan meningkatnya anggaran belanja negara dan anggaran belanja rakyat. Nilai yang tidak sebanding dengan sebuah pendapatan negara yang didapat dari upaya eksploitasi yang berkontribusi pada bencana ekologi. Negeri ini akan segera menuju kebangkrutan bila defisit ekologi tidak tertangani dengan segera. REFERENSI :
selengkapnya...

SILVIKA

Beberapa letusan gunung berapi yang pernah tercatat sepanjang sejarah antara lain : Letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Indonesia, pada tahun 1815. Para ilmuwan memperkirakan bahwa 10.000 orang meninggal dalam letusan awal dan pada bulan-bulan beikutnya sekitar 82.000 lagi meninggal karena kelaparan dan penyakit. Setahun kemudian, debu yang dipancarkan ke atas menyebar ke seluruh atmosfer sehingga mengurangi jumlah sinar matahari yang mencapai permukaan bumi dan menurunkan suhu. Letusan Gunung Pinabotu di Filipina tahun 1991 mempunyai dampak global tapi tidak berlangsung lama dengan mendinginkan bumi dan menipiskan lapisan ozon. Letusan Gunung Berapi Santorini, 70 mil di utara Kreta yang meletus pada tahun 1600 Sebelum Masehi dengan kekuatan seratus kali lebih besar dari letusan Krakatau tahun 1883. Dampak iklim Santorini sangat mungkin merupakan salah satu penyebab hilangnya peradaban Minoa secara tiba-tiba. Letusan Gunung Hekla 3 di Iceland antara tahun 1150 dan tahun 1136 Sebemlum Masehi. Menurut seorang penulis, ”salju turun dalam enam bulan dan tebalnya lebih dari satu kaki…es membunuh lima panen sereal…tanaman serat menjadi tidak matang…dan terdapat hujan lebat”.
selengkapnya...

Copyright © 2013 DEDEK RAHLEM | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah